Home » News » Drama Happy Ending Bagi Sarmilih

Drama Happy Ending Bagi Sarmilih

Posted on December 19, 2009 by Ancora Sports | Categories: News | link

Source: The Flag

Yang membuat persaingan jadi lebih “panas” adalah karena masing-masing berjuang dengan ambisi yang sama, yaitu menutup seri PGPI Tour tahun ini dengan kenangan manis sebagai juara serta mengukir sejarah pribadi dalam perjalanan karir professional mereka.

Rasanya tidak terlalu berlebihan apabila tim liputan majalah The Flag menyebut persaingan antara Sarmilih KZ, Maan Nasim, dan Ilyassak dalam Ancora Pro Series IV di Padang Golf Gading Raya, Serpong, sebagai sebuah drama episode terakhir yang menegangkan sejak mereka bertiga berada dalam satu group dalam dua putaran terakhir. Pasalnya selepas menyelesaikan pertandingan hari kedua mereka, tiga pegolf “kuat” Indonesia tersebut berhasil menempati posisi tiga teratas dalam persaingan leader board dan selanjutnya “tidak terpisahkan” hingga akhir turnamen.
Yang membuat eprsaingan menjadi lebih “panas” adalah karena masing-masing berjuang dengan ambisi yang sama, yaitu menutup seri PGPI Tour tahun ini dengan kenangan manis sebagai juara serta mengukir sejarah pribadi dalam perjalanan karir professional mereka.
Bagi Ilyassak jika ia berhasil menang akan menjadicatatan pertama gelar juaranya setelah dalam lima tahun terakhir lebih banyak mengoleksi runner up dan posisi dalam lima besar. Sementara arti kemenangan bagi Maan, tentu untuk melengkapi gelar Ancora Pro Series yang sejak seri pertama belum terlepas dari genggamannya. Sedangkan Sarmilih yang walaupun telah mengoleksi dua gelar seri turnamen dua hari pada musim turnamen tahun ini, tentu ingin membuktikan kemampuannya dengan meraih gelar juara dalam turnamen empat hari. Jadi sungguh pertarungan “trsula” golf Indonesia ini amat sangat menarik utnuk diikuti sejak digulirnya putaran ke tiga pada tanggal 03 esember 2009.
Maan Nasim yang kokoh berada d puncak leader board dalam dua hari pertama dengan skor 10 under (66/68), terpaksa harus menyerahkan tampuk pimpinannya ke tangan Sarmilih di akhir putaran ke tiga setelah tak sanggup mempertahankan keunggulannya dengan mengemas skor 74 (2 over) pada hari itu. Sementara walaupun tidak memperlihatkan kekuatan permainannya seperti dalam dua putaran pertama, skor 72 (even par) yang dikemas Sarmilih di putaran ke tiga cukup untuk menahan skor 9 under yang telah dikemasnya dan berada satu pukulan lebih baik dari Maan Nasim.
Yang justru menunjukkan grafik peningkatan permainan di hari ketiga adalah, Ilyassak, ketika dirinya memulai permainan dengan skor 5 under hingga akhirnya berhasil “bersanding” dengan Maan di posisi T2 dengan skor 8 under. Karena menurutnya tidak mudah utnuk mengejar skor ketimbang menjalankan strategi permainan bertahan.
“Maan dan Sarmlih cukup bermain aman, sedangkan saya harus terus menyerang dengan resiko yang tinggi,” ujar pegolf kelahiran Aceh tersebut selepas menutup ptaran permainannya di hari ke tiga.
Dengan perolehan skor sementara yang ketat di posisis tiga teratas leader board, pertandingan hari ke empat menjadi putaran yang sangat menentukan bagi katiga “jawara” golf tanah air tersebut, dimana teknik permainan menjadi hal yang tidak lebih penting dari pada mental bertanding dan strategy menekan satu sama lain. Artinya sekali lepas focus maka kegagalan akan langsung berada di depan mata.
Bobot pertandingan local yang sungguh bermutu menjadi catatan level tersendiri dari para pengamat yang mengikuti jalannya pertandingan hari ke emapat, karena ternyata ketiganya menunjukkan kelas mereka semenjak melakukan tee off di hole pertama.
Sarmilih sempat tertinggal oleh kedua pesaingnya hingga hole ke enam, dimana setelah itu ia berganti-ganti memimpin leader board bersama Maan Nasim yang nampak bermain begitu lepas pada Sembilan hole pertama.
Dalam 10 hole pertama Ilyassak sempat tak mampu mengimbangi irama permainan dua pesaingnya yang pada saat itu diketahui masih menguasai di dua posisi teratas Order of Merit PGPI sejak berakhirnya seri PGPI Tour pertama. Namun dengan pengalaman dan kesabarannya, pegolf dengan penampilan khas kumis tebal tersebut bahkan mampu menempatkan namanya bersama-sama Maan Nasim di posisi T2 setelah membukukan birdie di hole 16, dimana Maan justru terganjal bogey di sana,
Sarmilih masih memimpin di puncak leader board dengan skor 12 under saat mereka bertiga memasuki hole terakhir. Namun margin satu stroke dari Maan dan Ilyassak, belum sama sekali mengamankan posisinua untuk dapat disebut sebagai pemain yang paling berpeluang meaih jauara dalam seri terahir PGPI Tour ini. Dan memang terbukti ketika chipnya gagal mendekati pin dan selanjutnya melakukan dua kali putt untuk par. Sementara Maan dan Ilyassak justru berhasil membukukan birdie di hole penentuan tersebut yang sekaligus menambah ketegangan para spectator yang hadir pada hari itu dengan memaksakan sudden death play off “segitiga” di posisi skor sama-sama 276 (12 under).
“Antara nasib baik dan mental juara”…itulah kira-kira yang menjadi gambaran umum di dalam ebnak para spectator ketika menyaksikan Maan, Sarmilih dan Ilyassak kembali ke teeing ground hole 18 (par 5) untuk memulai babak sudden death play off mereka. Karena jika soal membaca kekuatan antara ketiganya, masing-masing telah memiliki “kunci” untuk mengantisipasi lawan-lawannya. Terutama bagi Sarmilih yang pernah mengalahkan Ilyassak ketika meraih gelar juara Emeralda Mercedes-Benz Fascination Golf Tournamen di bulan februari selanjutnya menyerah kepada Maan dalam RP Invitational satu bulan kemudian. Namun sekali lagi perhitungan di atas kertas seperti itu tidak terlalu berlaku dalam suasana “siap tempur” seperti yang tengah mereka rasakan pada saat itu.
Suasana semakin terasa begitu mencekam ketika ketiga pegolf tersebut bersiap melakukan pukulan ketiga mereka dari posisi bola masing-masing yang bisa dibilang tidak terlalu mudah untuk melakukan approach.
Ilyassak yang bola tee shotnya sempat mendarat di area pepohonan pembatas fairway, menempatkan bola pukulan ke tiga-nya di atas green sekitar 12 meter di sebeleh kanan pin. Sementara Sarmilih yang nampak bermain begitu hati-hati dengan pukulan-pukulan pendek, mendaratkan bolanya persis di depan area fringe di belakang pin dengan jarak kurang lebih 8 meter, sedangkan Maan berada di posisi yang kurang menguntungkan di jarak 10 meter dengan double break.
Sentuhan putting Ilyassak hamper saja membuat suasana lebih mencekam ketika bolanya terhenti hanya beberapa sentimeter saja dari lubang. Dua putt untuk par belum sama sekali menutup peluangnya meraih juara, sementara dua possisi bola para pesaingnya masih fifty-fifty untuk dapat diselesaikan dengan sekali putt.
Entah apa yang menjadi strategi Maan Nasim ketika posisi bolanya yang breada lebih jauh dari lubang ketimbang posisi bola Sarmilih, justru mempersilahkan rekan satu kampungnya tersebut terlebih dahulu melakukan putting.
Sarmilih hanya berjongkok satu kali untuk membaca break, selanjutnya melakukan stance yang disusul dengan satu sentuhan putt yang mengarahkan bolanya kea rah kiri dalam lubang dan…Masuk! Sekaligus menghapus harapan Ilyassak dakam pertarungan seru tersebut.
Walaupun nampak begitu emsional Sarmilihtidak serta merta merasa telah menjadi pemenang, mengingat dirinya pernah menyaksikan langsung di Palembang bagaimana Maan Nasim tanpa kesulitan berhasil meluncurkan bolanya dengan mulus dalam jarak yang lebih jauh dari jarak bolanya saat itu.
Namun keberhasilan di Palembang ternyata tidak dapat diulang oleh Maan Nasim setelah bola hasil puttingnya berhenti hanya dua sentimeter di sebelah kanan lubang sekaligus mengantarkan Sarmilih KZ untuk meraih gelar juara PGPI Tour ke tiganya di tahun ini dan yang ke enam sepanjang karir profesionalnya.
Menerima trophy serta mengantongi cek sebesar 24 juta rupiah, Sarmilih berhasil mengukuhkan dirinya di posisi ke dua dalam Order Od Merit PGPI Tour 2009, sekaligus menjadi pegolf yang berhasil membuka dan menutup musim dengan gelar juara.